Pergi

Ada perasaan yang aneh dalam setiap kepergian. Sepertinya semua menjadi tidak nyaman saat sudah tiba waktunya untuk pergi. Bahkan saat kepergian itu sudah menjadi yang kesekian kalinya pun, tetap saja rasanya ada sedikit sendu yang memaksa bulir kecil jatuh dari sudut mata. Aku sedang membicarakan kepergian yang cukup jauh, ya. Pergi dari rumah tercinta, terutama.

Tentu ini bukan karena ada barang yang terlupa tertinggal di rumah, bukan juga karena kehilangan akses internet super kencang, tempat tidur tinggi, makanan enak yang sudah tersedia tanpa harus cari di luar atau masak sendiri, bukan juga (apalagi) karena belum menunaikan tugas mulia di pagi hari (baca: this should not be named).

Rasanya harusnya aku memang lebih tepat berada di rumah. Meladeni rasa hangat saat sudah tiba di rumah, bahkan saat baru barang sebentar ada di rumah. Like Kings of Convenience says, I am someone who need somewhere to long for. Home may be my ‘somewhere’. Rasanya aku paling tepat berada di sini, meskipun menghabiskan banyak makanan di rumah dan kadang suka menaruh benda-benda secara sembarangan, tapi aku tidak segan merepotkan mereka yang ada di rumah. Rasanya aku jauh lebih suka di sini.

Kali ini aku pergi lebih cepat. Lebih cepat dari teman-temanku yang lainnya, lebih cepat dari rata-rata waktu pulangku biasanya. Aku pergi untuk sesuatu yang bermanfaat nanti, aku yakin.

Atau.. sebenarnya aku memang tidak pernah pergi. Aku, diriku, masih di sini. Atau setidaknya aku pergi untuk kembali ke sini.

Better (not) Left Unsaid

Sudah lama aku ingin menanyakan hal ini kepada kakak-kakak wartawan. Adakah hati Kakak terluka saat kantor mereka mendapat pesanan menulis berita seperti yang diharapkan oleh sang pemesan? Atau saat ada yang menyelipkan amplop cukup tebal di saku Kakak selepas meliput intrik di negara ini? Atau saat tulisan Kakak yang berkualitas terpaksa harus mereka ganti agar sesuai pangsa pasar?

Juga pada kakak-kakak yang bekerja di HRD, aku ingin bertanya. Bagaimana jika anak pak Bos dititipkan ke kantor agar dapat posisi strategis padahal mendekati kualifikasi dalam kamus kompetensi saja pun tidak? Atau saat harus mengurusi hasil keuntungan perusahaan yang harus mampir ke saku tiap orang yang membubuhkan tanda tangan?

Sudah lama pula aku ingin menanyakan hal ini kepada kakak-kakak peneliti. Tidak semua, hanya pada yang masih melakukan penelitian karena dibayar. Aku tau biaya penelitian mahal, Kakak. Tapi tidakkah intelectual standards yang ada tujuh biji dan pasti Kakak pelajari di masa kuliah dulu membekas sedikit di memori jangka panjang kakak-kakak sekalian? Tidakkah satu saja intelectual traits digunakan?

Aku bingung, Kakak. Aku jadi ragu dengan bagaimana aku dididik di Indonesia. Apakah semua ini tidak akan ada gunanya saat aku menjejakkan kaki di rumput berduri kecil-kecil bernama dunia kerja?

Menjalani masa kuliah sambil sesekali bermain dengan teman-teman sangat menyenangkan. Membuat kehausan terhadap apa yang dinamakan ilmu pengetahuan lambat laun terpenuhi. Kadang-kadang ilmu lain di luar materi kuliah juga sangat menyenangkan untuk digali bersama teman-teman yang sama ingin tahunya. Bahkan mengetahui bahwa banyaaak sekali hal yang belum kami ketahui pun juga menjadi semacam ilmu pengetahuan baru bagi kami.

Tapi semakin banyak tahu, semakin aku merasa ini seharusnya tidak begini, tidak begitu. Memang semuanya tidak perlu ditentukan mana yang benar mana yang salah, sih, dan aku juga tidak punya hak mencampuri urusan orang lain. Namun, tetap saja itu menggangguku.

Tentu ini bukan ditulis sebagai alasan untuk menjadi malas-malasan saat mengerjakan tugas kuliah. Tapi, plis, aku takut ini menjadi begitu. Celah untuk pesimis menjadi ternganga lebar saat banyak kekacrutan yang seakan-akan sudah jadi sistem ini berlanjut.

Bantu buat aku percaya lagi bahwa nantinya bisa kulakukan sesuatu..

Dia menghibur saat ku rapuh. Siapa kuasa..
Dia bagai suara hangat senja. Senandung tanpa kata
Dia mengaburkan gelap rindu. Siapa kuasa..

Banda Neira - Ke Entah Berantah. Selalu ada kata untuk sahabat.