Better (not) Left Unsaid

Sudah lama aku ingin menanyakan hal ini kepada kakak-kakak wartawan. Adakah hati Kakak terluka saat kantor mereka mendapat pesanan menulis berita seperti yang diharapkan oleh sang pemesan? Atau saat ada yang menyelipkan amplop cukup tebal di saku Kakak selepas meliput intrik di negara ini? Atau saat tulisan Kakak yang berkualitas terpaksa harus mereka ganti agar sesuai pangsa pasar?

Juga pada kakak-kakak yang bekerja di HRD, aku ingin bertanya. Bagaimana jika anak pak Bos dititipkan ke kantor agar dapat posisi strategis padahal mendekati kualifikasi dalam kamus kompetensi saja pun tidak? Atau saat harus mengurusi hasil keuntungan perusahaan yang harus mampir ke saku tiap orang yang membubuhkan tanda tangan?

Sudah lama pula aku ingin menanyakan hal ini kepada kakak-kakak peneliti. Tidak semua, hanya pada yang masih melakukan penelitian karena dibayar. Aku tau biaya penelitian mahal, Kakak. Tapi tidakkah intelectual standards yang ada tujuh biji dan pasti Kakak pelajari di masa kuliah dulu membekas sedikit di memori jangka panjang kakak-kakak sekalian? Tidakkah satu saja intelectual traits digunakan?

Aku bingung, Kakak. Aku jadi ragu dengan bagaimana aku dididik di Indonesia. Apakah semua ini tidak akan ada gunanya saat aku menjejakkan kaki di rumput berduri kecil-kecil bernama dunia kerja?

Menjalani masa kuliah sambil sesekali bermain dengan teman-teman sangat menyenangkan. Membuat kehausan terhadap apa yang dinamakan ilmu pengetahuan lambat laun terpenuhi. Kadang-kadang ilmu lain di luar materi kuliah juga sangat menyenangkan untuk digali bersama teman-teman yang sama ingin tahunya. Bahkan mengetahui bahwa banyaaak sekali hal yang belum kami ketahui pun juga menjadi semacam ilmu pengetahuan baru bagi kami.

Tapi semakin banyak tahu, semakin aku merasa ini seharusnya tidak begini, tidak begitu. Memang semuanya tidak perlu ditentukan mana yang benar mana yang salah, sih, dan aku juga tidak punya hak mencampuri urusan orang lain. Namun, tetap saja itu menggangguku.

Tentu ini bukan ditulis sebagai alasan untuk menjadi malas-malasan saat mengerjakan tugas kuliah. Tapi, plis, aku takut ini menjadi begitu. Celah untuk pesimis menjadi ternganga lebar saat banyak kekacrutan yang seakan-akan sudah jadi sistem ini berlanjut.

Bantu buat aku percaya lagi bahwa nantinya bisa kulakukan sesuatu..

Dia menghibur saat ku rapuh. Siapa kuasa..
Dia bagai suara hangat senja. Senandung tanpa kata
Dia mengaburkan gelap rindu. Siapa kuasa..

Banda Neira - Ke Entah Berantah. Selalu ada kata untuk sahabat.

Percayalah hati lebih dari ini, pernah kita lalui. Takkan lagi kita mesti jauh melangkah. Nikmatilah lara. Jangan henti di sini.

Float - Sementara

productivemuslim:

[ProductiveRamadan Online Tips]: Episode 4 - Sleep Management during Ramadan – Part 1

 

Mohammed Faris, founder of ProductiveMuslim.com (aka Abu Productive), shares with you daily tips to help you become productive during Ramadan. In this episode you’ll learn:

 

Sleep is a challenge in Ramadan due to:

1. Change in your meal/metabolism schedule.

2. Night Prayers (Taraweeh + Witr + Qiyam)

3. Having to wake up early for Suhoor

 

If you like these videos, like, share, comment below or subscribe to our newsletter and get these videos sent to your inbox daily: http://productivemuslim.com/newsletter/

 

Link on Youtube: http://proms.ly/1m774Xc

Link on Vimeo: http://vimeo.com/99533574

 

Follow us: @AbuProductive on Twitter | Productive Muslim on Facebook