Flat Words

readers never wrong, the writer do.

1 note

Berkontribusi itu memang bisa dimulai dengan hal kecil, tapi harus diinisiasi dengan mimpi yang besar, karena dari mimpi besar, yang kecil-kecil pun terlampaui!
Ijonk Muhammad, Talkshow Syiar Akbar, 23 Mei 2013

0 notes

Ada sebuah ruas jalan—atau lebih tepat disebut gang kecil—yang tampaknya mulai menjadi saksi bisu rutinitasku setiap hari. Jalan itu terletak di sub-jalan Pepaya yang merupakan salah satu penghubung jalan Raya Margonda dan Stasiun UI. Masuklah ke jalan Pepaya dan berbeloklah ke kiri di gang pertama, sebelum warung makan Barakah. Di situlah kamu akan menemukannya. Setiap pagi sekitar pukul 07.51 saat berangkat dari rumah ke kampus atau setiap senja menjelang malam saat pulang ke rumah, aku melewati jalan setapak gang itu. Atau jika beberapa kali dalam seminggu aku terpaksa pulang malam sekali, aku juga selalu memilih jalan itu karena tenang dan aman aku dibuatnya.

Jalan itu habis ditempuh hanya dalam 55 langkah. Tepat 55 langkah dari awal sampai akhir. Dari dulu aku sudah menghitungnya dengan langkah santaiku *bangga* Yah, mungkin bisa berbeda kalau kamu-kamu yang jangkung yang berjalan melewatinya.

Lalu… Apa istimewanya?

Istimewanya adalah jalan itu menawarkan apa yang tidak kudapatkan dari jalan-jalan di dalam kampus, apalagi jalan Margonda: ketenangan. Rumahku terletak tepat di pinggir jalan Margonda yang in syaa Allah dijamin selalu banyak kendaraan melaju cepat, sangat cepat malah. Bagiku, meskipun sudah hampir setahun melewati jalan Margonda setiap hari, pengalaman menyeberang jalan Margonda masih sangat intimidating ><

Kalau pagi, banyak banget kendaraan yang melaju tanpa sungkan-sungkan lagi. Sepeda motor nggak mau kalah sama mobil, mobil nggak mau kalah sama kopaja, kopaja nggak mau kalah sama angkot, dan angkot nggak mau ngalah sama orang yang mau nyeberang :” Kalau sore, apalagi Sabtu dan Minggu sore di badan jalan arah Depok, Margonda sudah seperti pawai klakson. Rame banget, dipenuhi ratusan—atau ribuan?—kendaraan, klakson di mana-mana. Lambaian tangan calon penyeberang pendamba keselamatan sering nggak digubris—bahkan di trotoar pun tidak, akhirnya penyeberang nggak jadi-jadi nyeberangnya. Malah ada temen yang bercanda, “Nyeberang di zebra cross itu bukan buat cari aman, tapi biar kalau mati dapat asuransi.” Naudzubillahi min dzalik…

Karena itu, saat berangkat ke kampus aku selalu ingin cepat-cepat menyeberang dan masuk ke jalan kecil itu. Jalan itu tertutup tembok tinggi milik sebuah kantor percetakan di sebelah timur dan bersinggungan langsung dengan taman rumah yang lumayan cantik bergaya semi art deco di sebelah barat. Suara bising dari Margonda teredam oleh tembok tinggi itu, membuatnya menjadi jalan yang super tenang dan menyenangkan.

Beberapa hari yang lalu aku sempat memetakan langkahku. Di langkah pertama, biasanya aku akan langsung menghembuskan nafas super lega. Di langkah ke enam biasanya aku akan mulai mengingat-ingat ada barang yang ketinggalan atau tidak, lalu di langkah ke sembilan aku memutuskan untuk kembali ke rumah jika ada yang tertinggal. Jika tidak ada, aku meneruskan perjalanan dengan tenang. Aku akan merencanakan ulang apa yang akan kulakukan hari itu di langkah ke sebelas sampai langkah ke 35. Di langkah ke 36 aku mengingat-ingat apa saja yang telah kulakukan kemarin dan—kalau otakku sedang beres—aku akan berpikir untuk memperbaiki ketidakefisienan waktu yang telah kulewatkan. Sampai di langkah ke 44, aku akan menoleh ke belakang, hanya untuk melihat apa ada orang di belakangku. Entah kenapa, aku selalu secara otomatis menoleh ke belakang hanya untuk melihat apakah ada orang di belakangku. Lalu aku berhenti sejenak, sekedar memperbaiki jilbab atau rok atau sepatu. Kemudian di langkah ke 45 sampai 55 aku menghirup dan menghembuskan nafas panjang-panjang agar siap menghadapi hari dan kedinamisan dunia lagi.

image

Kalau di Disney World dunia para Putri, mungkin terlihat seperti ini, padahal enggak :p Gambar dapet dari sini

Menyenangkan rasanya punya kegiatan yang walaupun sederhana namun dapat memberikan kepuasan tersendiri, bahkan tanpa perlu kehadiran orang lain. Rasanya seperti melarikan diri ke pantai lalu naik kapal layar yang bisa naik ke awan, kemudian berpusing bersama bintang-bintang untuk kemudian mendarat di pulau tak dikenal yang memanggil untuk dieksplorasi. Melarikan diri sejenak dari kebisingan yang biasa. Hanya perlu aku dan 55 langkahku :)

Filed under random

0 notes

Cita-cita yang Terpikir di 13 Mei 2013

Akhir-akhir ini, di berbagai kesempatan, aku sering ditanya pertanyaan klise yang ternyata bisa bikin “tuk!”. Makes me think. Pertanyaannya hanya sebaris:

Cita-citamu apa?

Harusnya dapat dijawab dengan mudah jika pertanyaan itu ditujukan padaku waktu kecil, aku di sekolah dasar, aku di sekolah menengah, bahkan aku di sekolah menengah atas. Penanya tidak akan menemukan jawaban yang sama dari masing-masing Ica, tapi setidaknya tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawaban.

Kurasa ini bukan tip-of-the-tounge, demotivasi meraih mimpi, low self-esteem, atau apalah itu namanya. Sepertinya aku hanya malu mengutarakannya ._.v Cita-citaku sudah condong ke arah yang beda dari daftar cita-citaku sebelumnya. Yang ini bukan profesi, tapi lebih mirip keinginan.

Cita-citaku ini tidak akan merugikan orang lain, bahkan mungkin tidak merugikan sama sekali. Jika ada yang berbahaya dengan ini, paling-paling yang diposisikan berbahaya hanya aku sendiri :)) Aku akan punya banyak waktu untuk keluarga-keluarga baruku. Cita-citaku membebaskanku memilih hendak melakukan sesuatu dengan tim atau melakukannya sendiri. Aku bisa melakukan apa yang kumau, tapi dengan seizin ‘satu orang itu’. Ah, satu orang ini saja :p

Aku bisa bebas mengembangkan diri tanpa harus terikat dengan tipe pekerjaan nine-to-five. Bahkan, mungkin, aku bisa bikin hal besar dari tempat kerja favoritku ini, seperti kata Wahyu Aditya di bukunya Kreatif Sampai Mati!

Firasat mengatakan cita-citaku ini akan jadi pekerjaan yang menyenangkan.

Read more …

Filed under random harapan

17 notes

lisdafitriah:

SEDEKAH BRUTAL Part 6 is coming!Sedekah Brutal featuring Flohope (community empowerment) proudly present&#160;:“Sedekah Modal Usaha Ibu-Ibu Penyapu Jalanan UI dan Bakti Sosial di Desa Bojonggede”
Assalamu’alaykum..Kawan2..Seringkali kita berjumpa dgn mereka..seringkali kita melihat mereka..sesering kita mengacuhkan mereka..Menyisir meter demi meter aspal jalanan..agar kita bisa berlalu dgn nyaman..Ya..itulah mereka..Ibu2 penyapu jalanan UI..berjuang utk hidup dan membiayai sekolah anak2nya dgn penghasilan 600rb per bulan..Sedekah Brutal Part 6 ini akan berkolaborasi dgn komunitas @flohope, membantu pemberdayaan ibu-ibu penyapu jalanan UI.. insyaAllah sedekah akan disalurkan dlm bentuk modal usaha pembuatan kerajinan tangan,souvenir dll. selain itu, sedekah dlm bentuk bakti sosial juga akan disalurkan ke desa Bojonggede,pemasok utama para tenaga outsourcing di UI (OB, Cleaning Service, Penyapu Jalanan).
Yuk berpartisipasi.. :)Salurkan sedekah terbaik-mu..melalui rekening Sedekah Brutal:Bank Syariah Mandiri7039447317a/n Annisa Riani(batas penyerahan sedekah tgl 18 May 2013, harap konfirm ke Ana 082125394262) Terimakasih ^^Salam Sedekah Brutal.“Totalitas dalam Berbagi”“Sedekah menentramkan Hati”Follow: @sedekahbrutal utk info dan renungan.. ;)

lisdafitriah:

SEDEKAH BRUTAL Part 6 is coming!
Sedekah Brutal featuring Flohope (community empowerment) proudly present :
“Sedekah Modal Usaha Ibu-Ibu Penyapu Jalanan UI dan Bakti Sosial di Desa Bojonggede”


Assalamu’alaykum..
Kawan2..
Seringkali kita berjumpa dgn mereka..
seringkali kita melihat mereka..sesering kita mengacuhkan mereka..
Menyisir meter demi meter aspal jalanan..agar kita bisa berlalu dgn nyaman..
Ya..itulah mereka..Ibu2 penyapu jalanan UI..berjuang utk hidup dan membiayai sekolah anak2nya dgn penghasilan 600rb per bulan..
Sedekah Brutal Part 6 ini akan berkolaborasi dgn komunitas @flohope, membantu pemberdayaan ibu-ibu penyapu jalanan UI.. insyaAllah sedekah akan disalurkan dlm bentuk modal usaha pembuatan kerajinan tangan,souvenir dll.
selain itu, sedekah dlm bentuk bakti sosial juga akan disalurkan ke desa Bojonggede,pemasok utama para tenaga outsourcing di UI (OB, Cleaning Service, Penyapu Jalanan).

Yuk berpartisipasi.. :)
Salurkan sedekah terbaik-mu..melalui rekening Sedekah Brutal:
Bank Syariah Mandiri
7039447317
a/n Annisa Riani
(batas penyerahan sedekah tgl 18 May 2013, harap konfirm ke Ana 082125394262)
Terimakasih ^^
Salam Sedekah Brutal.
“Totalitas dalam Berbagi”
“Sedekah menentramkan Hati”
Follow: @sedekahbrutal utk info dan renungan.. ;)

(via muhammadakhyar)

0 notes

Tentang “Berjalan Bersama”

Jumat lalu, seorang sahabat dari fakultas MIPA memberiku beberapa lembar surat digital yang  disalinnya dari sebuah grup media sosial. Katanya ini renungan tanggapan dari apa yang pernah kuceritakan padanya. Kusalin ulang karena kurasa aku bukan satu-satunya yang mengalami hal seperti yang tergambar dalam isi surat tersebut. Selain itu, surat ini kusalin ulang karena aku hanya mampu menyusun, bukan pandai menulis. Isinya seperti ini.

 

“Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da’wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh” Begitu keluh kesah seorang kader dakwah kepada murobbinya di suatu malam.

Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya. “Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?“ sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak Islami. Juga dengan organisasi da’wah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja..” jawab ikhwah itu.

Sang murobbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

“Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas, kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad’u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

“Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?“ sang murobbi mencoba memberi opsi.

“Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?” serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang ikhwan tersebut.

Tak ayal, sang ikhwan menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. 

“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan da’wah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah subhanahu wata’ala?”  Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk. “Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?” tanya sang murobbi lagi.

Sang ikhwah tetap terdiam dalam sesenggukkan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya…

”Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, Insya Allah ana akan tetap istiqomah. Ana berda’wah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan. Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam da’wah. Dan hanya jalan ini saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana” sang mad’u berazzam di hadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.

Sang murobbi tersenyum. “Akhi, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan untuk berda’wah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan” papar sang murabbi.

“Bila ada satu-dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap da’wah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka.

Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidaksepakatan selalu disikapi dengan jalan itu? maka kapankah da’wah ini dapat berjalan baik?“ sambungnya panjang lebar.

Sang mad’u termenung merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya.

“Tapi, bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi da’wah dengan kapasitas ana yang lemah ini?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

“Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!” sahut sang murobbi.

“Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiyah dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghibah antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya”

Malam itu sang mad’u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah dalam mengarungi jalan da’wah.

Mohon maaf, aku tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, aku hanya ingin berbagi. Temanku menyalin dari sini.

0 notes

One Day by Charice. 

Lotta things to learn by a true learner. To learn is to make some permanent changes. Keep in faith that we will make a change.

Dari Youtube. 

0 notes

Ternyata benar, bergerak dalam jamaah itu sulit, lebih sulit daripada harus bergerak sendiri. Tapi menurutku, sulitnya bukan karena harus memahami orang lain, tapi lebih karena kita harus memantaskan diri serta memperbaiki diri dalam bergerak bersama orang lain. Biggest enemy: myself.