Daar is maar een land, dat mijn land kan zijn. Het groeit naar de daad, en die daad is mijn.

Hanya ada satu negeri yang bisa menjadi Tanah Airku, yaitu negeri yang berkembang karena perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku.

Rene de Clerq

The So-Called Cinderella Complex

 Sudah beberapa kali aku mendengar tentang Cinderella Complex. Kebanyakan dari dua temanku yang cerdas-cerdas itu. Sebut saja inisialnya HB dan ARV, hahahaha. Ada sebuah buku berjudul The Cinderella Complex yang sudah mereka baca. Karya Colette Dowling. Aku, yang selalu merasa tak punya waktu—padahal nyatanya aku hanya selalu membuang-buang waktu—untuk membaca buku itu, akhirnya hanya diberi cerita tentang intisari buku itu apa. Jadi yang kuketahui hanya sebatas yang mereka ceritakan saja :p

 Dari namanya, awalnya aku merasa Cinderella Complex ini semacam Oedipus Complex atau Electral Complex a la Freud, tapi ternyata dia lebih menarik daripada itu! Cinderella Complex ini menurutku sangat bisa terjadi sekarang. Maksudku, mungkin banyak sekali wanita yang mengalami hal ini.

 Cinderella Complex ini kondisi yang dialami wanita muda yang selalu membayangkan seorang pangeran menawan berkuda putih akan datang menjemput mereka. Bersama sang pangeran, mereka akan hidup bahagia selamanya. Wanita ini selalu mencari pria yang terbaik dari yang terbaik, sesuai harapannya :\

 Yang agak bikin dilema adalah saat sang wanita tidak menemukan sosok pangeran idaman pada pasangan. Bisa jadi dia akan memilih menjadi merdeka dari pasangan sama sekali, bisa melakukan apa saja yang dia inginkan, dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Hmm mungkin dari segi materi, kemandirian, dan sedikit banyak kehidupan sosial bisa diusahakan untuk diciptakan sendiri. Tapi bayangkan saja, betapa kesepiannya dia. Yes, I agree when my friend told me, “I can’t bear being lonely.” Karena aku juga :\ Secara alami wanita juga ingin ada seseorang yang memperhatikannya, seseorang yang bisa diandalkannya dalam kondisi apapun.

 Takut terhadap kemandirian dan situasi turunan yang menyertainya juga dialami pada Cinderella Complex. Bahkan di tengah berbagai kemungkinan yang ditawarkan oleh dunia sekarang ini, menjadi self-sufficient terhadap kebutuhan dirinya sendiri masih jadi momok buat wanita. Tanpa wanita sadar sepenuhnya akan emansipasi, maka itu tidak akan terjadi. Katanya.

 Penggambaran tentang Cinderella Complex ini mungkin sedikitnya bisa terwakili dengan lagu Dear No One yang dibawakan dengan sangat apik oleh Tori Kelly. Sedikitnya lho yaa. Dengarkan lagunya di sini. Sepotong lirik dari lagu itu berbunyi begini:

I like being independent

Not so much of an investment. No one to tell me what to do

I like being by myself

Don’t gotta entertain anybody else. No one to answer to

But sometimes, I just want somebody to hold

Someone to give me their jacket when it’s cold

Get the young love even when we’re old

Yeah, sometimes, I want someone to grab my hand

Pick me up, pull me close, be my man

I will love you till the end

 See? Wanita itu bukannya susah dimengerti, tapi ada masanya di mana kami memang semenyebalkan itu. Jadi maklumi saja, jangan coba menafsirkan kami.

 Lagunya bagus sekali menurutku :) oh iya, out of topic sedikit, timnya Tori Kelly punya tumblr juga: http://letterstotorikelly.tumblr.com/. Yah, sedikit banyak aku setuju dengan lagu itu, kecuali bagian grab my hand, pick me up, pull me close, give the jacket, dan segala hal yang hanya bisa dilakukan oleh suami nanti, bukan sekarang :p

Depok, 5 April 2014. 05:55. Di sebuah rumah di Margonda Raya.

Ada apa?

Bagiku, apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang sangat penting.

…seharusnya.

Jadi kalau ada yang bertanya padaku, “Aku harus bagaimana menghadapi pilihan-pilihan hidup ini?”

Aku seharusnya menjawab, “Kamu inginnya apa?” atau, “Kamu akan nyaman jika seperti apa?”

Jawaban-jawaban yang mengarahkan untuk mempertimbangkan perasaan pribadi semacam itulah.

Namun aku kadang terlalu jahat.

Dengan alasan-alasan manis namun membebani semacam, “Tolong, pikirkan orang lain, jangan hanya dirimu sendiri,” atau, “Kalau bukan kamu, siapa lagi?” atau bahkan, “Tidakkah itu terlalu egois?”

Aku sungguh sangat jahat.

Saat ada yang bertanya padaku, “Bagaimana menurutmu jika aku keluar saja? Aku lelah berada di sini. Teriakku bahkan tidak didengar.”

Aku malah menjawab, “Bertahanlah, sedikit lagi. Ada masanya badai ini akan berganti dengan sinar matahari dan hidup yang menyenangkan akan datang lagi.” Terkadang kuimbuhi dengan isak tangis seolah mengatakan, “Jangan pergi, aku tak tahu akan jadi apa di sini tanpamu.”

Benar, aku merasa semakin jahat.

Saat kemudian tanpa sadar terucap ancamanku pada orang yang berkata, “Aku muak, ‘kan ku tinggalkan saja, biar saja mereka yang tidak mau dengar orang lain itu urus semuanya!”

Atau aku hanya berkata, “Selama ini kerjamu nggak ikhlas?” Lalu aku pergi.

Lihat betapa jahatnya aku.

Memangnya salah jika mereka merasa ada yang aneh lalu mereka beri kritikan? Tidak, kadang aku kurang bijak menanggapinya dan malah membuang mereka, tidak menyapa mereka.

Memangnya salah jika ada yang tidak pas dalam suatu sistem, dan—untuk menjaga diri—mereka memilih keluar saja? Tidak, itu dilakukan dengan alasan yang jelas melalui perenungan sebelumnya.

Aku hanya tak pernah (mencari) tahu apa alasan mereka berpendapat demikian.

Aku terlalu tidak sabar hanya untuk sekedar bertanya langsung pada mereka,

“Ada apa sebenarnya?”

Yang pasti akan berujung pada sebuah cerita.

Depok, 23 Maret 2014. 00.15

Ditulis di sebuah rumah di Margonda Raya

Panggung

Kapan ya kita benar-benar menjadi diri sendiri? Bagaimana kita bisa tau seperti apa diri kita yang sebenarnya? Bukannya perilaku kita selalu dipengaruhi konteks yang ada? Iya sih, kepribadian kita tidak statis. 

Dulu aku sering menonton temanku (yang merupakan seorang penyanyi) yang sedang tampil di panggung. Namanya Laras. Di kehidupan sehari-hari, dia sangat humoris, penyayang, seperti anak-anak. Bedaa banget dengan dia saat menyanyi di panggung, segala kesan kekanak-kanakan langsung hilang. Dia jadi setingkat Raisa lah…

Lalu bagaimana bisa Lee Chang Sub jadi sangat dewasa di music video Father saat beberapa waktu sebelumnya dia sangat “aneh” di B+ diary? Juga bagaimana bisa Yook Sung Jae yang tingginya 182 cm dan sangat lively itu jadi sosok yang sangat maskulin di music video When I was Your Man?

Dari contoh itu, ternyata panggung bisa mengubah perilaku kita. Bagi kita yang bukan penyanyi atau entertainer, jangan khawatir tidak kebagian. Di manapun kita berada, itulah panggung kita.

Takjub saja rasanya melihat orang-orang memiliki begitu banyak sudut yang berbeda. Kemampuan manusia untuk mentransformasi perilaku yang dimunculkan sebagai kombinasi dari ekspektasi lingkungan, emosi pribadi, dan penyesuaian terhadap perasaan orang lain, begitu luar biasa. Manusia tak pernah kehabisan alasan dan pilihan dalam menentukan perilaku yang dimunculkan.

Lalu, saat berada di dekatku, perilaku apa yang akan kaupilih?