Menjadi Ninja Tak Bertuan

There is always another beginning in every end.

Saya yakin dalam setiap pertemuan, sebelum ia menjadi untaian cerita yang berkepanjangan, selalu ada deguk kecil karena canggung bertemu suasana baru, bertemu pribadi baru. Saya pun yakin bahwa pada hilir setiap pertemuan selalu akan ada waktunya untuk mengatakan, “Selamat menempuh jalan masing-masing, Sahabat! Sampai jumpa kembali!” pada orang-orang yang membersamai kita sebelumnya. Mungkin telah berkali-kali pertemuan dan perpisahan ini saya alami, namun canggungnya tetap sama, ragunya tetap ada.

Kali ini, pertemuan dan perpisahan disebabkan oleh kehidupan yang harus saya awali di rumah baru: asrama PPSDMS Nurul Fikri. Asrama yang disebut-sebut sebagai asrama peradaban karena telah melahirkan banyak calon pemimpin peradaban ini telah berbaik hati menerima saya sebagai anggotanya. Sebenarnya hidup dengan banyak orang di bawah satu atap bukanlah yang pertama kali saya alami karena sebelumnya saya juga telah tinggal di rumah kontrakan bersama tiga orang lainnya. Perpisahan dengan sahabat baik yang tinggal sekamar dengan saya selama dua tahun terakhirlah yang membuat masa awal perpindahan ke asrama menjadi begitu berat. Saya tidak pernah membayangkan akan tinggal jauh darinya barang sebentar saja sebelumnya. Apalagi sekarang saya harus tinggal bersama orang-orang yang sama sekali baru dan melewatkan bulan internalisasi bersama mereka.

Butuh waktu sekitar seminggu bagi saya untuk benar-benar terikat secara emosional pada kamar baru saya. Dua hari pertama di masa internalisasi saya hanya berhasil tidur selama satu setengah jam. Selain karena memang baru bisa menyelesaikan kegiatan internalisasi, bersih diri dan asrama menjelang tengah malam, saya juga masih gelisah dan belum bisa tidur dengan nyenyak. Sisi positif dari hal tersebut adalah saya bisa menikmati kesunyian asrama di tengah malam dan bisa mengadu sesuka hati pada Sang Pemilik Hidup saat teman-teman yang lain masih tidur. Kegelisahan yang melanda selama beberapa hari pertama dengan cepat teratasi dan di hari-hari selanjutnya saya telah bisa tidur dengan nyenyak.

Sistem yang ada di PPSDMS memaksa saya untuk beradaptasi lebih cepat dibandingkan biasanya. Untuk hal ini, saya sangat berterima kasih pada teman-teman di kamar 1 atau kamar Cut Nyak Dien yang banyak membantu saya menyesuaikan diri dengan suka dan duka di asrama. Sebenarnya ada dua kubu di kamar ini. Kubu pertama adalah kubu yang menyukai keteraturan, segala hal yang jelas dan sistematis, serta suasana yang rapi. Kubu kedua berada di kutub yang berbeda dengan kubu pertama. Kubu kedua lebih tidak rapi, tidak sistematis, dan tidak begitu suka diatur. Terbayang bagaimana potensi kericuhan bisa terjadi di kamar ini, bukan? Tetapi sekali lagi saya harus berterima kasih kepada kamar 1 karena tidak membiarkan hal itu terjadi. Alih-alih terjadi pertikaian, yang terjadi adalah toleransi yang standarnya melebihi standar yang bisa dibayangkan oleh manusia-manusia lainnya. Via dan Lola yang berada di kubu pertama menjadi pengingat yang baik dan sahabat yang bertangan dingin untuk teman lainnya. Di sisi lain saya, Diba, Finna, dan Abidah yang berada di kubu kedua berusaha bertindak sebagai anak baik yang kemudian memberi warna hiburan dengan candaan yang kami bawa masing-masing. Kedua belah pihak menurut saya telah berhasil menurunkan tuntutan terhadap masing-masing yang lain. Saya menjadi ragu apakah nanti saat kamar diacak lagi, saya berhasil berpindah hati dari kamar 1.

Setiap anggota kamar 1 dengan begitu lancangnya telah meninggalkan jejak di hati saya. Abidah yang seakan bisa dan punya segalanya menjadi tumpuan saat sedang memiliki masalah yang butuh diselesaikan. Diba, sahabat baru yang sekampus dengan saya memberi saya banyak pelajaran untuk menjadi pribadi yang menyenangkan pada semua orang. Via, sang ketua kamar yang tegas tapi menyimpan begitu banyak cerita dan tingkah lucu yang selalu dikeluarkan dalam waktu-waktu pamungkas. Finna yang super kocak dan selalu mengagetkan saya dengan candaan-candaan yang tidak ada habisnya. Terakhir, Lola yang selalu rajin dalam urusan agama, menjadi pengingat kami di kamar 1 untuk salat, mengaji, dan membaca Al-Ma’tsurat.

Meskipun terbantu dengan teman-teman yang baik hati dan menyenangkan ini, ada saat-saat di mana saya merasa cukup lelah. Jadwal pembinaan yang ketat dan padat membuat saya hanya tidur sekitar tiga jam setiap harinya. Hal ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan saya yang terbiasa tidur sangat larut. Agak terkejut juga dengan kebiasaan yang dibangun dalam sistem pembinaan PPSDMS yang mengharuskan bangun dini hari untuk melaksanakan salat malam tiap hari, namun di situlah saya menemukan sumber ketenangan untuk memulai setiap harinya.

Welcoming night, apel, dialog tokoh, deep introduction, basic skill training, waktu berkah subuh, qiyamul lail, upacara bendera, dan amalan-amalan harian yang harus dipenuhi terkadang membuat saya kewalahan. Pernah suatu ketika saya meminta izin untuk tidak mengikuti satu sesi deep introduction karena ingin mengerjakan tugas kepanitiaan di kampus hingga menginap, namun saya tidak diberi izin oleh supervisor, yaitu Teh Nurul. Dari situ saya belajar bahwa saya tidak bisa terus-menerus mempertahankan pengelolaan hari saya di PPSDMS. Saya harus mulai belajar untuk membagi prioritas agar bisa mempersembahkan seratus persen di PPSDMS dan seratus persen di ranah lainnya. Beberapa kali saya masih ketinggalan dan terlambat. Memang, ketidaktepatan waktu adalah kelemahan saya yang paling utama dan sampai sekarang masih berusaha saya perbaiki.

Selain waktu, satu hal yang sangat sulit untuk saya perbaiki adalah tilawah. Di PPSDMS yang menargetkan pesertanya untuk mengkhatamkan satu juz dalam sehari, saya merasa jauh tertinggal dengan teman-teman lainnya. Tak jarang saya meminta tambahan waktu sampai keesokan harinya untuk menuntaskan jatah tilawah pada satu hari. Saya sering merasa malu karena pada dasarnya saya masih tidak selancar yang lain dalam membaca Al-Qur’an. Saya pun membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan tilawah karena saya suka membaca terjemahan dari Al-Qur’an dan memikirkan artinya. Dalam hal ini saya harus berterima kasih pada teman hidup saya, Mutia atau biasa dipanggil Mute, yang bacaan serta hapalan Al-Qur’annya sudah sangat baik. Mute selalu datang setiap hari ke kamar saya dan menanyakan kabar saya dan kabar tilawah saya. Ini menjadi motivasi tersendiri bagi saya. Suatu saat saya akan menjadi seperti Mute, saudara saya yang hebat.

Di PPSDMS saya merasa doa yang kami ucapkan tiap pagi di apel harian mulai terwujud. Baris yang kurang lebih berbunyi,

Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah terhimpun dalam cinta pada-Mu, bertemu dalam dakwah di jalan-Mu… Maka kokohkanlah ikatannya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup…

Doa itu mulai terasa di antara kami, peserta PPSDMS regional 1 Jakarta. Momen yang menyatukan peserta PPSDMS regional 1 Jakarta menurut saya ada dua, yaitu Safari Kemerdekaan dan National Leadership Camp. Di momen-momen tersebut saya berkesempatan mengenal penghuni asrama seberang melalui kegiatan bersama. Amazing race yang dilakukan di Safari Kemerdekaan merupakan cara ampuh untuk mendekatkan kami semua dalam ikatan persaudaran. Saya mengenal anggota squad 1 putra yang ternyata sangat menyenangkan.

Ada Hari yang pintar, banyak ide, dan bisa mempertahankan pembicaraan kelompok tetap pada jalurnya, meskipun sering jumawa. Saat mulai kehilangan bahan pembicaraan, ada Awe si tukang selfie yang seru dan agak tidak penting membuka bahan obrolan baru. Farras yang termasuk paling muda di squad 1 juga memiliki caranya sendiri untuk memberi warna pada kelompok kami. Sansan, si orang Sunda yang bijaksana. Adji, ketua kelompok yang suka menyendiri tanpa alasan yang jelas pun bisa menjadi bahan tertawaan kami. Terakhir, Adlul yang sudah terlihat jiwa kepemimpinannya terlhat sangat aktif berkontribusi di kelompok.

Begitupun di National Leadership Camp, terutama pada persiapan dan penampilan haflah, momen ini berhasil membuat kami semakin dekat. Kedekatan Ksatria dan Tiara bukan berawal dari hal yang menyenangkan. Tidak terhitung sudah berapa kali Tiara mengeluh tentang Ksatria yang tidak tepat waktu. Mungkin di sisi lain Ksatria juga mengeluh pada Tiara yang cerewet dan sering mengatur. Hampir-hampir saya takut penampilan haflah kami tidak berjalan lancar. Saya sama sekali tidak mengharapkan haflah Ksatria dan Tiara menyabet juara. Bahkan, jika pada akhirnya kolaborasi penampilan puisi, tari saman, tari piring, dan paduan suara Ksatria dan Tiara ini bisa dilakukan pun saya sudah merasa senang dan lega sekali. Pada akhirnya, saat regional 1 Jakarta diumumkan sebagai juara 1 haflah, saya terkejut sekali dan merasa ini bonus yang besar sekali dari Allah.

Saya pikir, sebulan masa internalisasi hanya dikatakan berhasil jika masing-masing Ksatria dan Tiara dapat mulai menerapkan empat jati diri PPSDMS dengan ikhlas di hatinya. Juga jika Idealisme Kami, Hymne, serta Mars PPSDMS dapat terpatri di hati Ksatria dan Tiara. Ketiga atribut PPSDMS ini selalu berhasil membuat saya merinding tiap kali dibacakan, namun tidak mudah untuk dilakukan. Saya merasa sangat beruntung ditempatkan di sini, bersama Pembina Regional yang luar biasa inspiratif dan Eksekutif Regional yang membina kami dengan ikhlas. Sebulan ini saya belajar banyak, saya melakukan kesalahan di banyak tempat, dan merasa sudah melakukan perbaikan di beberapa tempat pula. Bolehlah sedikit jumawa, hehe. Masih ada 21 bulan lagi yang harus saya lalui di sini dan saya yakin akan bisa bertahan meskipun pasti akan tergores dan tercambuk. Seperti ninja yang sedang berada dalam perguruan ninja, yang selalu bertahan dalam kondisi sesulit apapun. Hingga pada akhirnya menjadi ninja yang bebas, tak bertuan, kecuali idealismenya sendiri.

Pergi

Ada perasaan yang aneh dalam setiap kepergian. Sepertinya semua menjadi tidak nyaman saat sudah tiba waktunya untuk pergi. Bahkan saat kepergian itu sudah menjadi yang kesekian kalinya pun, tetap saja rasanya ada sedikit sendu yang memaksa bulir kecil jatuh dari sudut mata. Aku sedang membicarakan kepergian yang cukup jauh, ya. Pergi dari rumah tercinta, terutama.

Tentu ini bukan karena ada barang yang terlupa tertinggal di rumah, bukan juga karena kehilangan akses internet super kencang, tempat tidur tinggi, makanan enak yang sudah tersedia tanpa harus cari di luar atau masak sendiri, bukan juga (apalagi) karena belum menunaikan tugas mulia di pagi hari (baca: this should not be named).

Rasanya harusnya aku memang lebih tepat berada di rumah. Meladeni rasa hangat saat sudah tiba di rumah, bahkan saat baru barang sebentar ada di rumah. Like Kings of Convenience says, I am someone who need somewhere to long for. Home may be my ‘somewhere’. Rasanya aku paling tepat berada di sini, meskipun menghabiskan banyak makanan di rumah dan kadang suka menaruh benda-benda secara sembarangan, tapi aku tidak segan merepotkan mereka yang ada di rumah. Rasanya aku jauh lebih suka di sini.

Kali ini aku pergi lebih cepat. Lebih cepat dari teman-temanku yang lainnya, lebih cepat dari rata-rata waktu pulangku biasanya. Aku pergi untuk sesuatu yang bermanfaat nanti, aku yakin.

Atau.. sebenarnya aku memang tidak pernah pergi. Aku, diriku, masih di sini. Atau setidaknya aku pergi untuk kembali ke sini.

Better (not) Left Unsaid

Sudah lama aku ingin menanyakan hal ini kepada kakak-kakak wartawan. Adakah hati Kakak terluka saat kantor mereka mendapat pesanan menulis berita seperti yang diharapkan oleh sang pemesan? Atau saat ada yang menyelipkan amplop cukup tebal di saku Kakak selepas meliput intrik di negara ini? Atau saat tulisan Kakak yang berkualitas terpaksa harus mereka ganti agar sesuai pangsa pasar?

Juga pada kakak-kakak yang bekerja di HRD, aku ingin bertanya. Bagaimana jika anak pak Bos dititipkan ke kantor agar dapat posisi strategis padahal mendekati kualifikasi dalam kamus kompetensi saja pun tidak? Atau saat harus mengurusi hasil keuntungan perusahaan yang harus mampir ke saku tiap orang yang membubuhkan tanda tangan?

Sudah lama pula aku ingin menanyakan hal ini kepada kakak-kakak peneliti. Tidak semua, hanya pada yang masih melakukan penelitian karena dibayar. Aku tau biaya penelitian mahal, Kakak. Tapi tidakkah intelectual standards yang ada tujuh biji dan pasti Kakak pelajari di masa kuliah dulu membekas sedikit di memori jangka panjang kakak-kakak sekalian? Tidakkah satu saja intelectual traits digunakan?

Aku bingung, Kakak. Aku jadi ragu dengan bagaimana aku dididik di Indonesia. Apakah semua ini tidak akan ada gunanya saat aku menjejakkan kaki di rumput berduri kecil-kecil bernama dunia kerja?

Menjalani masa kuliah sambil sesekali bermain dengan teman-teman sangat menyenangkan. Membuat kehausan terhadap apa yang dinamakan ilmu pengetahuan lambat laun terpenuhi. Kadang-kadang ilmu lain di luar materi kuliah juga sangat menyenangkan untuk digali bersama teman-teman yang sama ingin tahunya. Bahkan mengetahui bahwa banyaaak sekali hal yang belum kami ketahui pun juga menjadi semacam ilmu pengetahuan baru bagi kami.

Tapi semakin banyak tahu, semakin aku merasa ini seharusnya tidak begini, tidak begitu. Memang semuanya tidak perlu ditentukan mana yang benar mana yang salah, sih, dan aku juga tidak punya hak mencampuri urusan orang lain. Namun, tetap saja itu menggangguku.

Tentu ini bukan ditulis sebagai alasan untuk menjadi malas-malasan saat mengerjakan tugas kuliah. Tapi, plis, aku takut ini menjadi begitu. Celah untuk pesimis menjadi ternganga lebar saat banyak kekacrutan yang seakan-akan sudah jadi sistem ini berlanjut.

Bantu buat aku percaya lagi bahwa nantinya bisa kulakukan sesuatu..